Home / Info Jogja / 3 Budaya Bakal Warnai Wajah Baru Malioboro Yogyakarta

3 Budaya Bakal Warnai Wajah Baru Malioboro Yogyakarta

Kawasan Malioboro, Yogyakarta, ke depan akan punya wajah baru. Saat ini, kawasan wisata belanja di Yogyakarta itu tengah dalam penataan tahap satu.

Sampai saat ini penataan Malioboro terus berjalan. Mulai dari sarana publik hingga tampilan di sekitar Malioboro. Dinas Kebudayaan DIY berencana membuat wajah baru bagi Maliboro dengan memasukkan tiga gaya arsitektur, meliputi Jawa, Hindia-Belanda, dan Tionghoa.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono mengatakan, penataan Malioboro tahap I sudah berjalan dan segera dilanjutkan ke tahap II. Setelah penataan Malioboro tahap kedua dari Pasar Beringharjo hingga Titik Nol selesai, fasad atau eksterior sisi luar bangunan di Malioboro menjadi agenda selanjutnya.

Pembangunan fasad Malioboro itu nantinya dimulai dari sisi timur terlebih dahulu.

“Ada tiga desain fasad, yaitu Jawa, Indische, dan Chinese. Jadi ada mix-nya. Jadi itu tidak per blok ternyata. Dan di blok satu itu campuran lalu muncul lagi di utara. Kita sudah lakukan pemetaan (untuk tiga desain itu),” ujar Umar, Jumat, 10 Februari 2017.

Umar mengatakan dalam pembangunan fasad yang mencerminkan tiga budaya itu, pemerintah akan memberikan insentif kepada pemilik bangunan. Namun, jumlah insentif yang akan diberikan pemerintah masih belum diputuskan.

“Jadi setelah Titik Nol kilometer selesai, nanti kita berikan. Itu sifatnya stimulan bukan biaya, nanti bisa juga ada yang full. Ya tondo tresno (tanda cinta) lah,” ucap Umar.

Umar menegaskan bila pemilik bangunan di sekitar Malioboro nantinya tidak mengurus bangunan yang sudah difasad, itu dapat dikategorikan menelantarkan bangunan.

“Menelantarkan bangunan itu melanggar UU. Misal kita sudah kasih stimulan, tapi ternyata tidak ada respons ke depannya, nah itu menelantarkan bangunan,” ujar Umar.

Umar menjelaskan, selain fasad di Malioboro, Pemda DIY juga akan mengintensifkan kegiatan khas Yogyakarta di pusat layanan publik maupun di area publik lainnya. Yang sudah berjalan di antaranya di RS Jogja di mana ada kesenian khas Yogya ditampilkan di pusat layanan publik itu.

“Keistimewaan di sarana publik maupun institusi publik yang mengadakan pelayanan cokean itu masuk. Yang sudah masuk dan berjalan itu RS Jogja. Ke depannya akan ditambah,” ujar Umar. (liputan6)

Check Also

Paket Jogja Heboh Digeber, 28 Hotel Ambil Bagian

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta Istijab M. Danunagoro mengatakan Paket …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *